Rabu, 09 Maret 2016

GERHANA MATAHARI TOTAL (GMT)

            Pada hari ini hari Rabu 9 Maret 2016 merupakan pengalaman yang luar biasa dalam hidupku karena aku bisa menyaksikan sedikit keagungan Allah swt dimana fenomena yang langka ini terjadi yaitu Gerhana Matahari. Disaat pagi hari manusia beraktifitas seperti biasa dan ayam, burung serta binatang lainnya dibuat kebingungan karena permukaan bumi menjadi gelap padahal waktu saat itu menunjukkan pukul 07.30 WIB. Walaupun kejadian ini berlangsung singkat sekitar 2 menit sekian detik namun bagi ku sangat berkesan, sebab di prediksi Gerhana Matahari akan terjadi 33 tahun yang akan datang dan diprediksi akan terjadi sekitar tahun 2049. Untuk melintasi lintasan yang sama seperti ini membutuhkan waktu ratusan tahun. Menurut para ahli Astronomi akan kembali pada lintasan yang sama setelah 350 tahun.
       
         Sayangnya kami disini di Tamiang layang dan sekitarnya (Kab. Barito Timur) tidak bisa menyaksikan seperti di daerah tetangga. Karena awan sedikit nakal menutupi Matahari akan dan telah tertutup oleh Bulan dan sempat terjadi hujan. Akan tetapi, syukur alhamdulillah kami bisa menyaksikan dengan mata telanjang tanpa menggunakan kaca mata khusus saat Bulan bergeser membuka cahaya matahari.

Sejarah atau Asal Usul Masyarakat Bakumpai

Asal Usul Bakumpai

Secara etimologis, Bakumpai adalah julukan bagi suku dayak yang mendiami daerah aliran sungai Barito. Bakumpai berasal dari kata ba (dalam bahasa banjar diartikan memiliki) dan kumpai yang artinya adalah rumput. Dari julukan ini, dapat dipahami bahwa suku ini mendiami wilayah yang memiliki banyak rumput. Menurut legenda, bahwa asal muasal suku Dayak Bakumpai adalah dari suku Dayak Ngaju yang akhirnya berhijrah ke negeri yang sekarang disebut dengan Marabahan (salah satu Kabupaten di Kalimantan Selatan yaitu kabupaten Barito Kuala).

Dari beberapa referensi lainnya yang dipelajari, Suku Bakumpai (dalam bahasa Belanda disebut Becompaijers/Bekoempaiers) atau Dayak Bakumpai adalah subetnis rumpun Dayak Ngaju yang beragama Islam dan tinggal di sepanjang tepian daerah aliran sungai Barito di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah yaitu dari kota Marabahan, Barito Kuala sampai kota Puruk Cahu, Murung Raya. Suku Bakumpai berasal bagian hulu dari bekas Distrik Bakumpai sedangkan di bagian hilirnya adalah pemukiman orang Barangas (Baraki). Sebelah utara (hulu) dari wilayah bekas Distrik Bakumpai adalah wilayah Distrik Mangkatip (Mengkatib) merupakan pemukiman suku Dayak Bara Dia atau Suku Dayak Mangkatip. Suku Bakumpai maupun suku Mangkatip merupakan keturunan suku Dayak Ngaju dari Tanah Dayak.

Supriadi Sekretaris Kerukunan keluarga Bakumpai (KKB) Kota Palangka Raya, tampaknya menambahkan bahwa suku bakumpai adalah suku yang mendiami sepanjang DAS Barito hingga Tumbang Samba, Katingan samoai Long Iram, Kalimantan Timur.
Menurut Tjilik Riwut, Suku Dayak Bakumpai merupakan suku kekeluargaan yang termasuk golongan suku (kecil) Dayak Ngaju. Suku Dayak Ngaju merupakan salah satu dari 4 suku kecil bagian dari suku besar (rumpun) yang juga dinamakan Dayak Ngaju (Ot Danum).

Mungkin adapula yang menamakan rumpun suku ini dengan nama rumpun Dayak Ot Danum. Penamaan ini juga dapat dipakai, sebab menurut Tjilik Riwut, suku Dayak Ngaju merupakan keturunan dari Dayak Ot Danum yang tinggal atau berasal dari hulu sungai-sungai yang terdapat di kawasan ini, tetapi sudah mengalami perubahan bahasa. Jadi suku Ot Danum merupakan induk suku, tetapi suku Dayak Ngaju merupakan suku yang dominan di kawasan ini.

Dikatakan pula bahwa Suku dayak Bakumpai dahulunya memiliki suatu kerajaan yang lebih tua dibandingkan dengan kerajaan daerah banjar, akan tetapi karena daya magis yang luar biasa akhirnya kerajaan ini berpindah ke sungai Barito dan rajanya dikenal dengan nama Datuk Barito. Dari daerah marabahan ini mereka menyebar ke aliran sungai Barito. Dari cerita rakyat, ada suatu daerah di Kabupaten Murung Raya yaitu Muara Untu pada mulanya hanyalah suatu hutan belantara yang dikuasai oleh bangsa jin bernama Untu. Kemudian ada dari suku Bakumpai yang hijrah ke sana dan mendiami daerah tersebut yang bernama Raghuy. Sampai sekarang jika ditinjau dari silsilah orang yang mendiami Muara Untu, mereka menamakan moyang mereka Raghuy.

Agama yang Dianut Sebelum Islam

Pada mulanya masyarakat bakumpai yang disebutkan di atas menganut agama nenek moyang yaitu Kaharingan. Hal ini dapat dilihat dari peninggalan budaya yang sama seperti suku dayak lainnya. Kemudian mereka menjumpai suatu wilayah di mana di tempat tersebut ada seseorang yang memiliki kharismatik, sebab apabila dia berdiri di suatu tanah, maka tanah itu akan ditumbuhi rumput. Orang yang memiliki kharismatik tersebut tidak lain adalah Nabiyullah Khidir as. Akhirnya, sebagaimana disebutkan dalam cerita orang-orang pendahulu Bakumpai, mereka pun masuk agama Islam dan berkembang biaklah mereka menjadi suatu suku. Suku Bakumpai adalah julukan bagi mereka, karena apabila mereka belajar agama di suatu daerah dengan gurunya Khidir, maka tumbuhlah rumput dari daratan tersebut, sehingga kemudian mereka dikenal dengan suku Bangsa Bakumpai.

Kini, hampir seluruh suku Bakumpai beragama Islam dan relatif sudah tidak tampak religius seperti pada kebanyakan suku Dayak (Kaharingan).

Jumlah Penduduk Suku Dayak Bakumpai

Dalam sumber lain juga disebutkan bahwa suku Bakumpai Suku Bakumpai merupakan suku yang baru muncul (menurut hemat kami bukan yang dimaksudkan suku yang baru atau suku hanyar) dalam sensus tahun 2000, karena sebelumnya yaitu pada tahun 1930, suku Bakumpai masih digabungkan dengan dengan suku Dayak yang lain. Hasil sensus pada tahun 2000 tersebut apabila dipersentasekan sebanyak 7,51% dari penduduk Kalimantan Tengah adalah orang-orang Bakumpai.

Menurut situs "Joshua Project" suku Bakumpai berjumlah 41.000 jiwa. Namun apabila dilihat dari hasil sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik di Kalimantan Selatan pada tahun 2000 (untuk sementara data yang tersedia hanya tahun 2000), populasi suku Bakumpai berjumlah 20.609 jiwa. Dari jumlah tersebut, penduduk suku Bakumpai yang terbanyak berada di Kabupaten Barito Kuala dengan jumlah 18.892 jiwa dan sisanya menyebar di daerah Kalimanta Selatan. Adapun untuk di Kalimantan Tengah menurut hasil sensus yang dilakukan Badan Pusat Statistik di Kalimantan Tengah pada tahun 2000, jumlah masyarakat bakumpai yang tinggal di provinsi ini berjumlah 135.297 serta 1.000 jiwa di Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Long Iram, Kutai Barat. Apabila diakumulasikan, semuanya berjumlah 200.000 jiwa.


Kabupaten/kota yang terdapat organisasi kerukunan suku Bakumpai

• Kabupaten Barito Kuala (kecamatan Bakumpai, Tabukan dan Kuripan)
• Kabupaten Barito Selatan (Buntok)
• Kabupaten Barito Timur (mayoritas di desa Muara Plantau dan Desa Magantis)
• Kabupaten Barito Utara (Muara Teweh)
• Kabupaten Murung Raya
• Kabupaten Kapuas (Kuala Kapuas)
• Kabupaten Pulang Pisau
• Kota Palangkaraya
• Kabupaten Katingan, berupa enclave
• Kota Banjarmasin
• Kabupaten Kutai Barat (1,7% populasi)
Mahelat Lebo, Tarian Khas Suku Dayak Bakumpai. Tarian khas suku dayak bakumpai ini sungguh amat mempesona dan penuh dengan semangat. Dengan memakai baju khas dayak dan dilengkapi dengan tameng, mandau serta obor menambah keindahan dan pesona dari tarian ini.
Hal ini tergambar dari persembahan tari 'mahelat lebo', disambut sangat meriah pengunjung pameran obyek wisata dan pangan nusantara 2014 di jogja expo center (jec) yang berlangsung sabtu-senin 9-12 Mei 2014.
mahelatlebo2
Gerakan atraktif  tarian menggunakan sebilah mandau serta memainkan api obor yang menyembur tinggi ke atas menambah pesona dari tarian ini.
Dikuti dari http://krjogja.com Tari 'Mahelat Lebo' adalah hasil produksi sanggar Permata Ije Jela Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Sanggar Permata Ije Jela merupakan binaan Ketua TP PKK Barito Kuala, pimpinan Kasmudin MPd. Penampilan apik mereka tak lepas dari kerja keras tim, antaralain penata tari Tajudin Noor SPd, penata musik Taufiq SPd dan M Apriawan. Serta penata rias dan busana Permata Ije Jela Fashion and Designer Barito Kuala.Menurut Tajudin Noor, tarian menggambarkan kesiapsiagaan suku Dayak Bakumpai dalam mempertahankan 'lebo' atau kampung halaman dari berbagai gangguan dan ancaman. Semangat berkobar bagai api menyala-nyala, mereka berjuang melindungi bumi Ije Jela. Penuh cinta kasih terhadap tanah air untuk mencapai kemakmuran bersama.
mahelatlebo1
BADEWA, adalah salah satu upacara ritual khas Suku Bakumpai yang merupakan sub suku Dayak Ngaju. Upacara ini bertujuan untuk menyembuhkan orang sakit
Berawal dari sebuah keluarga yang masih tergolong Suku Bakumpai, mereka mempercayai serta meyakini kekuatan roh-roh Gaib. Dengan kesederhanaan hidup dan pengetahuan kesehatan yang masih rendah, suatu ketika salah satu di antara keluarga terserang sakit. Sang orang tua berupaya mencari ramuan tumbuh-tumbuhan yang digunakan sebagai obat. Hal ini sudah menjadi kelaziman yang dilakukan para leluhur mereka sebelumnya. Kendatipun ramuan tumbuh-tumbuhan tersebut telah digunakan, namun keluarga yang terserang sakit tak kunjung sembuh.

Akhirnya mereka pasrah kepada Yang Maha Kuasa, yang ketika itu disebut para Dewa. Dengan berbagai mantera, sang ayah memanggil roh-roh nenek moyang mereka yang dianggap mempunyai kesaktian. Selain diminta datang sebagai perantara penghubung dengan para Dewa, salah seorang anggota keluarga yang sehat langsung kesurupan dimasuki roh gaib. Kemudian keluarga yang kesurupan mengambil daun sawang.
Daun tersebut beberapa kali diusapkan dan diurutkan ke sekujur tubuh si sakit. Setelah itu keluarlah benda, baik berupa potongan kaca, paku, atau pasak ulin dari tubuh si sakit. Dengan segala keajaiban, keluarga yang terserang sakit pun sembuh. Cerita kesembuhan tersebut kemudian menyebar ke seluruh pelosok. Jadi, Badewa merupakan pegobatan dengan memohon kepada para Dewa melalui roh nenek moyang yang diundang melalui mantera-mantera tertentu.
Mulai saat itulah, apabila ada keluarga yang sakit dan tidak dapat disembuhkan dengan ramuan, upacara Badewa dilakukan sebagai alternatif pengobatan sebagaimana lazimnya para penganut Animisme. Dalam melakukan pemujaan terhadap para Dewa, mereka menyiapkan parapen dupa/kemenyan, minyak likat, mayang pinang, beras kuning, kelapa tua, kelapa muda, banyu gula, serta piduduk (beras, gula merah, telur ayam dan kelapa). Untuk mempercepat datangnya roh gaib, diperlukan sarana penunjang berupa seperangkat gamelan.
Upacara ini biasanya dilakukan oleh seorang dalang atau pembaca mantera, satu orang Padewa atau orang yang akan kesurupan, lima orang penabuh Gamelan dan dua orang cadangan untuk mengganti dalang dan padewa.
Adapun proses upacara adat badewa sebagai berikut :
1.  Mempersiapkan Alat ritual seperti topeng pantul, sangkala, panji, kelana, wayang dll.

2.  Mempersiapkan sesajen 41 macam
3.  Batatabur atau memanggil roh-roh para leluhur yang diiringi dengan gamelan.
4.  Setelah prosesi tersebut selesai maka mulailah melakukan pengobatan dengan bantuan roh leluhur yang telah dipanggil.
Upacara Badewa dapat dilangsungkan di mana saja baik tempat terbuka maupun tempat tertutup. Namun belakangan budaya Upacara Badewa ini mulai sulit ditemukan lagi..
Sumber  :
Dalam prosesi pernikahan adat suku dayak bakumpai, banyak tahapan-tahapan yang harus dilalui oleh kedua mempelai sebelum pelaksanaan perkawinan.
Mungkin melelahkan namun itu lah budaya khas yang dimiliki oleh suku dayak bakumpai dan menjadi daya tarik tersendiri bagi calon mempelai dan masyarakat sekitar.
Adapun untuk Urutan proses pernikahan suku Dayak Bakumpai/Bakumpai pada umumnya terjadi dalam beberapa tahapan di kalangan keluarga calon pengantin adalah sebagai berikut:
1.  Basuluh/ Meminang
Seorang laki-laki yang akan dikawinkan biasanya tidak langsung dikawinkan, tetapi dicarikan calon gadis yang sesuai dengan sang anak maupun pihak keluarga. Hal ini dilakukan tentu sudah ada pertimbangan-pertimbangan, atau yang sering dikatakan orang dinilai “bibit-bebet-bobot”nya terlebih dahulu. Setelah ditemukan calon yang tepat segera dicari tahu apakah gadis tersebut sudah ada yang menyunting atau belum.
2.  Baensekan atau Melamar.
Setelah diyakini bahwa tidak ada yang meminang gadis yang telah dipilih maka dikirimlah utusan dari pihak lelaki untuk melamar, utusan ini harus pandai bersilat lidah sehingga lamaran yang diajukan dapat diterima oleh pihak si gadis. Jika lamaran tersebut diterima maka kedua pihak kemudian berembuk tentang hari pertemuan selanjutnya yaitu Baatur Jujuran.
3.  Baatur Jujuran atau membicarakan masalah Mahar/Maskawin
Kegiatan selanjutnya setelah melamar adalah membicarakan tentang masalah kawin. Pihak lelaki kembali mengirimkan utusan, tugas utusan ini adalah berusaha agar masalah kawin yang diminta keluarga si gadis tidak melebihi kesanggupan pihak lelaki. Untuk dapat menghadapi utusan dari pihak keluarga lelaki, terutama dalam hal bersilat lidah, maka pihak keluarga sang gadis itu pun meminta kepada keluarga atau tetangga dan kenalan lainnya, yang juga memang ahli dalam bertutur kata dan bersilat lidah. Jika sudah tercapai kesepakatan tentang masalah kawin tersebut. Maka kemudian ditentukan pula pertemuan selanjutnya yaitu Maanter Jujuran.
4.  Maanter Jujuran atau membawa Mahar/Maskawin
Merupakan kegiatan mengantar masalah kawin kepada pihak si gadis yang maksudnya sebagai tanda pengikat. Juga sebagai pertanda bahwa perkawinan akan dilaksanakan oleh kedua belah pihak. Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu, baik dari keluarga maupun tetangga. Apabila acara Maanter Jujuran ini telah selesai maka kemudian dibicarakan lagi tentang hari pernikahan dan perkawinan.
5.  Nikah (ikatan resmi menurut agama)
6.  kakawinan atau Pelaksanaan Upacara Perkawinan .
Sebelum hari pernikahan atau perkawinan, mempelai wanita mengadakan persiapan, antara lain:
a. Bapingit dan Bakasai.
Bagi calon mempelai wanita yang akan memasuki ambang pernikahan dan perkawinan, dia tidak bisa lagi bebas seperti biasanya, hal ini dimaksudkan untuk menjaga dari hal-hal yang tidak diinginkan (Bapingit). Dalam keadaan Bapingit ini biasanya digunakan untuk merawat diri yang disebut dengan Bakasai dengan tujuan untuk membersihkan dan merawat diri agar tubuh menjadi bersih dan muka bercahaya atau berseri waktu disandingkan di pelaminan.
b. Batimuh.
Hal yang biasanya sangat mengganggu pada hari pernikahan adalah banyaknya keringat yang keluar. Hal ini tentunya sangat mengganggu khususnya pengantin wanita, keringat akan merusak bedak dan dapat membasahi pakaian pengantin. Untuk mencegah hal tersebut terjadi maka ditempuh cara yang disebut Batimuh. Setelah Batimuh badan calon pengantin menjadi harum karena mendapat pengaruh dari uap jerangan Batimuh tadi.
c. Bapapai.
Ritual Bapapai, adalah sebuah acara mandi kembang calon pengantin yang dilaksanakan pada malam hari, biasanya setelah akad nikah sekitar pukul  20.00 hingga pukul 22.00 Wib. Sudah suatu kebiasaannya warga suku yang banyak tinggal di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, pedalaman Kalteng melakukan acara akad nikah pada malam hari. Proses mandi kembang cukup sederhana dan unik, yaitu sebelum mandi kembang, kedua  calon pengantin harus berputar mengelilingi  tempat mandi yang dipagari benang hitam, diiringi oleh tujuh orang wanita yang berperan sebagai dayang.
Kemudian setelah berputar sebanyak tujuh kali calon  pengantin duduk di tempat yang telah disediakan untuk dimandikan oleh tujuh orang dayang secara bergantian. Untuk kemudian kedua mempelai didandani layaknya para dayang yang melayani raja dan ratu.
Adat budaya Bapapai suku Bakumpai ini diartikan mempelai membersihkan dan membuang masa lalu atau masa remaja, untuk kemudian bersiap dengan jiwa raga yang bersih menyongsong hari depan yang lebih bersih seperti layaknya seorang yang baru saja dimandikan.
Dikarenakan acara Bapapai ini dilakukan harus di lapangan terbuka maka acara ini menjadi tontonan gratis bagi masyarakat setempat dan biasanya cukup ramai dikunjungi warga, karena acara ini hanya terselenggaran saat perayaan perkawinan saja.
d. Perkawinan (Pelaksanaan Perkawinan)
Upacara ini merupakan penobatan calon pengantin untuk memasuki gerbang perkawinan. Pemilihan hari dan tanggal perkawinan disesuaikan dengan bulan Arab atau bulan Hijriah yang baik. Biasanya pelaksanaan upacara perkawinan tidak melewati bulan purnama.
Ditambah berbagai proses lainnya yang semuanya dilakukan di kediaman mempelai wanita. Karena perkawinan merupakan salah satu hal terpenting dalam hidup, maka keluarga kedua mempelai berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan kesan dan keistimewaan serta fasilitas kepada kedua mempelai, mereka dilayani bagai seorang raja dan ratu sehingga sering diberi julukan Raja ije andau (raja satu hari).
Proses-proses yang dilakukan sebelum bersanding (batatai-red: bakumpai) pengantin, yaitu:
1.  Balik Hejan atau Menurunakan Pangantin Laki-Laki, Upacara akan dimulai saat pengantin laki-laki mulai turun dari rumahnya menuju pelaminan di rumah mempelai wanita. Proses ini memang terlihat mudah, tetapi sering pada acara inilah terjadi hal-hal yang berakibat fatal bahkan mengakibatkan batalnya seluruh acara perkawinan. Di masa lalu, tidak jarang laki-laki saingan yang gagal memperoleh hati wanita yang akan segera menikah melakukan segala cara untuk menggagalkan pernikahan yang akan segera berlangsung. Mereka berusaha menggagalkan dengan cara halus (gaib) terutama saat ijab kabul tiba. Mempelai laki-laki akan muntah-muntah dan sakit, ada juga yang tidak dapat menggerakkan kakinya untuk melangkah padahal rumah wanitanya sudah di depan mata. Untuk mengantipasi hal ini biasanya para tetuha keluarga memberikan pahata dengan doa-doa khusus. Selain itu saat kaki calon pengantin laki-laki melangkah pertama kali akan didendangkan shalawat nabi dan ditaburi behas bahenda (beras kuning).
2.  Maarak. Acara ini di laksanakan beramai-ramai, yang di arak adalah Pengantin Laki-laki, saat tidak ada lagi gangguan terjadi rombongan pengantar akan bergerak menuju rumah mempelai wanita (dahulu jarak antar rumah calon relatif dekat sehingga warga berjalan kaki beramai-ramai). Kira-kira beberapa puluh meter di depan rumah mempelai, saat inilah berbagai macam kesenian akan ditampilkan. Diantaranya, Sinoman Hadrah, Kuntau, Lawang Sakaping. Pengantin Pria berada pada barisan paling depan dengan di payungi oleh salah satu dari muhrimnya. Pada saat berjalan menuju rumah pengantin wanita, para rombongan biasanya berhenti beberapa kali yang selanjutnya pengantin pria berbalik arah menghadap ke barisan belakang, kemudian salah satu dari rombongan barisan belakang yang mengiringi pengantin pria mendendangkan syair-syair, pantun-pantun jenaka, untuk memeriahkan penonton dan para warga yang dilewati pengantin pria. Hal ini dilakukan beberapa kali dalam setiap jarak jalan yang di tempuh oleh pengantin pria hingga sampai ketempat pengantin wanita yang sudah siap menunggu datangnya pengantin pria beserta rombogan yang mengiringinya
3.  Batatai Pengantin, proses terakhir dalam pesta. Kedua mempelai bertemu dan dipertontonkan di atas mahligai pelaminan disaksikan seluruh undangan yang hadir. Adapun para rombongan yang ikut mengantar pengantin pria di suguhkan dengan hidangan oleh pihak mempelai wanita sedangkan Para penonton di hibur dengan berbagai kesenian olah vocal seperti: kesenian Krungut, bajapin. Tapi pada saat ini, hiburan itu mengalami kemerosotan. Tidak lagi seperti dahulu, digantikan dengan orkes dangdut yang di laksanakan pada malam hari.
Keterangan :
tulisan / artikel bersumber dari : http://aiysayyidhan.blogspot.co.id/2012/11/prosesi-pernikah-adat-dayak-bakumpai-di.html